Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

Wanita harus 'Melek' Teknologi



Zaman semakin maju, begitupun dengan teknologi yang ada. Kita bisa menikmati berbagai kecanggihan teknologi yang telah diberikan dan diciptakan. Dengan adanya emansipasi terhadap wanita, diharapkan kita sebagai wanita untuk dapat 'melek' terhadap Teknologi yang ada.

Berikut adalah dua artikel mengenai wanita dan teknologi :

1. Sumber : Inilah.com


INILAH.COM, Jakarta - Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono mengatakan perempuan sebagai pelaku pembangunan dan guru masyarakat harus memahami teknologi.

Menurut keterangan dari Departemen Luar Negeri, Meutia menyampaikan hal itu ketika membuka International Workshop on Women Empowerment in Information Technology di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Selasa (24/3).

"Perempuan perlu mengenal Information and Communication Technologies (ICT) karena banyak informasi yang dapat diperoleh melaluinya. Dengan demikian, perempuan dapat terus mengembangkan pengetahuannya, dan bahkan berkesempatan untuk mencari nafkah melalui bisnis berbasis ICT," kata Meutia.

Lebih lanjut disampaikan Meutia seluruh lini masyarakat harus mendukung program pemberdayaan perempuan, membuka kesempatan yang luas terhadap akses pada ICT sehingga seluruh perempuan akhirnya dapat melek teknologi.

Perempuan usia 15-45 tahun, yang ada dalam kategori usia produktif untuk mencari nafkah, harus didukung jika ingin memberdayakan diri secara finansial. Sekalipun tetap menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga, namun hendaknya perempuan juga tidak melepaskan kesempatan bisnis.

Lokakarya yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan beserta Departemen Komunikasi dan Informatika itu akan berlangsung selama tiga hari, 24-27 Maret 2009.

Sebanyak 24 peserta dari 10 negara di wilayah Asia dan Timur Tengah, yaitu Bangladesh, Filipina, India, Iran, Kamboja, Myanmar, Palestina, Sri Lanka, Vietnam dan Indonesia turut ambil bagian dalam lokakarya itu.

Kegiatan itu merupakan komitmen Indonesia untuk mengembangkan kualitas perempuan dalam penguasaan dan pemanfaatan teknologi di negara-negara berkembang. 

Pelatihan internasional itu selain merupakan wahana untuk bertukar pengalaman di bidang pemanfaatan teknologi informasi, juga menjadi sarana bagi Indonesia untuk mempromosikan citra Indonesia di dunia internasional serta meningkatkan kerjasama internasional di antara sesama negara berkembang.

Tema "Pemberdayaan Perempuan di bidang Teknologi Informasi" sengaja dipilih mengingat peningkatan kualitas perempuan dalam pemanfaatan teknologi informasi merupakan kebutuhan nyata di negara-negara berkembang. 

Sebagai pengejawantahan semangat pemberdayaan perempuan tersebut, maka pelatihan kali itu diisi dengan kesempatan-kesempatan untuk berbagi pengalaman, ide dan pendapat dalam sejumlah sesi menarik.[*/ito]


***

2. Sumber : Student Blog UNBRAW


Pembawa acara : Ferly Junandar
Narasumber1 : Nurlina.N.Purbo (Pakar IT)
Narasumber2 : Irma

Penguasaan teknologi terbaru justru menjadi tuntutan perempuan modern. Mereka berupaya terus meng-update perkembangan teknologi. Teknologi yang semakin ramah dan efisien semakin memberikan dampak bagi peningkatan kepercayaan diri perempuan untuk mengikuti perkembangan teknologi.Perempuan mengakrabi teknologi sebagai upaya untuk menjadi bagian dari tren saat ini.
Pemerintah mendukung wanita untuk mengenal lebih jauh tentang IT untuk pemberdayaan wanita. Banyak ibu ibu memasukkan usaha mikro lewat IT. IT mendekatkan informasi yang di butuhkan dirinyakapn saja dimana saja.
Seperti yang sudah dipaparkan narasumber di e lifestyle bahwa dalam riset mengenai perempuan dan teknologi yang dilakukan terhadap 1.301 responden diketahui bahwa 30 persen perempuan sangat mengakrabi dan mengakses internet untuk berbagai keperluan.Dan 70 persennya kurang mengakrabi internet.Sebagian besar perempuan mengalami kesulitan apabila berhadapan dengan tugas sekolah anaknya yang mengharuskan ia menggunakan internet.Perempuan yang akrab menggunakan internet maupun menguasai IT lebih banyak menggunakan IT untuk kegiatan yang menunjang kegiatannya.Misalnya blog ,ms word untuk mengetik,ms excel untuk perincian anggaran PKK.Oleh karena itu para wanita yang sudah “melek IT” bersama dengan Kominfo juga mendukung para ibu-ibu yang belum melek IT dengan cara memberikan program pengenalan,pelatihan,dsb. Out put sangat besar dari pengenalan IT UKM telah akses.


Keep strong & grace
READ MORE - Wanita harus 'Melek' Teknologi

Jumat, 22 April 2011

Kartini dan Penggalan Suratnya

photo by : someone in Google




Masih ingatkah kalian akan sosok wanita yang satu ini? Raden Ajeng Kartini, dalam sejarahnya dikenal dengan pahlawan wanita Indonesia. Kartini memulai gebrakan dengan memperjuangkan hak - hak wanita.


Kartini menuangkan seluruh pemikirannya tersebut ke dalam bentuk catatan dan surat - surat kecil yang ditujukan secara pribadi pada sahabatnya Rosa Manuela Abendanon. Tulisannya itulah yang kemudian dibukukan kedalam suatu bentuk buku "Habis Gelap Terbitlah Terang". Kumpulan tulisannya tersebut sangat inspiratif dan berhasil mengubah mindset wanita Indonesia.


Berikut ini adalah beberapa penggal isi surat Kartini :



“....mereka (gadis dan perempuan Belanda) memang sangat cantik jelita, berkulit putih, anggun bergaun panjang, rambut jagungnya terjurai kemilau keemasan. Akan tetapi aku tak akan mau menjadi seperti mereka. Sebab aku yang berkulit sawo matang dan berambut hitam ini hanya manis dan lebih pantas dengan kebaya, gelung, kain jahit....”





 “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]




“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban.” [kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902].



Bisa dilihat dari penggalan - penggalan tulisan tersebut bahwa Kartini sangat bangga dengan identitasnya sebagai wanita Indonesia serta tidak menjadikan alasan emansipasi untuk berada 'diatas kepala pria'.


Sudahkan Anda merenunginya?


Jangan sampai kata emansipasi dan persamaan hak wanita terhadap pria membuat kita sebagai wanita terlihat semakin 'rendah'. Kita kuat dan anggun selayaknya seorang wanita. Kita bekerja sejajar dengan pria bukan berarti melupakan kodrat kita sebagai wanita. Terkadang sebuah situasi mengharuskan kita untuk tetap mengingat hal itu (menjadi seorang ibu).


Jadilah wanita yang CERDAS dalam arti yang sesungguhnya.



Keep strong & grace
READ MORE - Kartini dan Penggalan Suratnya

Kamis, 21 April 2011

Amalia Yunita, Bukan Wanita Biasa [cantik dan Berprestasi]

Yuni melepas zona kenyamanan, demi kualitas hidup yang lebih baik. Ia pun berharap, ketiga anaknya merasakan hal yang sama.

Usia Yuni hampir 42 tahun ketika kakinya menjejakkan gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro. Mereka membawa ‘bendera’ : Kilimanjaro For Lupus. Inilah kedua kalinya ia mendaki gunung demi misi sosial, mensosialisasi dan berkampanye demi penyakit mematikan, Lupus.
Sebelumnya, tahun 2006, Yuni berhasil menaklukkan Kalla Pathar -5.545 m dpl- di Himalaya, Nepal, demi misi sosial yang sama. Saat itu ia melakukan ekspedisi ‘Perempuan Indonesia Menapak Himalaya Untuk Lupus’.
Yuni memang bukan ibu rumah tangga biasa. Sebelumnya saat masih kuliah di Universitas Trisakti, ia aktif berkegiatan adventure. Ia pernah menjadi Ketua Umum Aranyacala Trisakti (Organisasi Pecinta Alam Universitas, Sekolah Tinggi dan Akademi Trisakti). Kini, ia CEO Lintas Jeram Nusantara (Arus Liar) dan CEO Regulo Lintas Nusantara (Regulo).
“Kuliahnya apa, kerjanya apa,” ucap Yuni, tertawa lepas.
Gemes Saat Ke Luar
Yuni paling senang bicara kegiatan adventure-nya. Kata istri Lody Korua –juga pecinta alam-, karena seringnya ia pergi ke luar untuk kegiatan adventure, ia sempt khawatir di Droup Out dari kuliahnya.
Selama 7 tahun, hampir setiap tahun saya pergi ekspedisi. Memang sih, banyak kegiatannya daripada kuliahnya. Untung nggak sampai di DO,” ungkap Yuni, tersenyum.
Saat keliling-keliling itulah Yuni sering dibuat terkagum-kagum. Apalagi ketika ia ekpedisi ke luar negeri, salah satunya ke Amerika di tahun 1992. Dia melihat kegiatan arung jeram mulai menjadi bisnis komersial yang dikelola sangat baik dan profesional.
“Tahun 94, saya ke Afrika. Termasuk ke Zimbabwe. Nah, Zimbabwe kan negara berkembang seperti Indonesia. Tapi , wisata arung jeramnya sangat maju sehingga bisa menghidupi masyarakat yang tinggal di pinggiran Victoria Falls. Ada restoran yang dibuat oleh persatuan arung jeram dengan menu yang temanya arung jeram. Ada juga tempat jualan sovenirnya,” cerita wanita kelahiran Bandung, 15 Juni 1967.
Yuni gemas karena potensi alam Indonesia justru lebih bagus, tapi belum banyak yang memulai bisnis di bidang arung jeram.
Ditambah lagi, Yuni sering dibilang, “ngapain bisnis di bidang itu, kuliah capek-capek di teknik sipil, eh kerjanya nggak ada hubungannya.” Ada yang lagi yang bilang, “emang bisa hidup, kerja di bidang itu?”
“Omongan seperti itulah yang justru memotivasi saya. Ternyata, saya tidak hanya hidup dari situ, tapi bisnis ini bisa menghidupi masyarakat-masyarakat di situ. Kami benar-benar bisa merintis dari bawah,” kata Yuni, bangga.
‘Nangis Darah’
Awalnya, Yuni membantu bisnis adventure Lody Korua, Tropical, yang sudah mulai lebih dulu, sejak tahun 80an. Mendampingi tamu-tamu dari luar negeri belajar survival di gunung-gunung di Indonesia. Ia juga melakukan survey arung jeram.
Barulah tahun 1995, Arus Liar berdiri, di bawah bendera Lintas Jeram Nusantara. Yuni memilih sungai Citarik di daerah Sukabumi sebagai tempat berarung jeram. Paketnya masih sederhana, hanya arung jeram dan menginap.
“Kita rekrut orang-orang lokal. Karena, misi kita memberdayakan masyarakat lokal untuk pemandu dan sebagainya,” kata Yuni.
18 tahun berkegiatan, Arus Liar kini makin ‘lengkap’. Selain arung jeram sebagai main product, ada pula Nusa Traditional Cottages, Ed-Adventure Programme, camping ground, trekking trip, paint ball, hingga aooroad adventure trip.
“Sekarang kita bahkan sudah punya ‘anak’ di Jawa Timur, Regulo Adventure di sungai Pekalen di Probolinggo. Awalnya, perusahaan ini milik orang lokal. Sekarang sudah kita ambil alih. Pusatnya dan kantor di Surabaya, tapi kita yang pegang menejemennya,” jelas Yuni senang.
Membesarkan Arus Liar, kata Yuni, tidaklah mudah, bahkan ia sampai harus ‘nangis darah’.
“Karena kita memang komit dengan pemberdayaan dan mendidik masyarakat lokal. Ya ampun, pertama kali kita buka, benar-benar belum berkembang. Kita cari lulusan SMP saja sangat susah. Sekolah SMP baru dibangun 5 tahun yang lalu,” kenang Yuni.
Pertama kali melakukan kegiatan arung jeram, “orang-orang masih lari-lari menonton kita. Waktu saya bawa mentega, mereka bingung, ini benda apa? Bahkan listrik baru masuk tahun 1997. Jalan bagus baru 7 tahun lalu. Benar-benar masih jauh dari harapan,” ungkap Yuni.
Tekad Yuni membesarkan Arus Liar, bukan semata-mata untuk hobi. Ia mengaku gemas karena melihat banyak operator arung jeram di Bali, dimiliki warga asing.
“Masak sih kita yang punya sungai, tapi kita nggak bisa. Juga karena menjalankan bisnis ini bukan nggak mudah. Kalau tidak hobi kita tidak punya passion. Ambil beberapa contoh, dulu banyak operator baru arung jeram, tapi ketika krisis ekonomi, tutup. Justru kita beda. Kita merasa, kalau krisis ekonomi, banyak yang stres justru banyak yang arung jeram. Pada saat kita di bawah, tidak kita tinggalin. Itu dunia kita,” ujar Yuni, tersenyum.
Krisis, justru kalau terjadi musibah saat berkegiatan arung jeram. Yuni mencontohkan seperti kejadian Raymond Van Beekum di Sungai Cisadane. Dampaknya, bisa mematikan banyak operator.
Merambah Pulau Lain
Tahun ini, Yuni tengah berkonsentrasi pada pekerjaan barunya.
”Saya ingin ini tidak berhenti di Sukabumi dan Jawa TImur. Kita sudah mulai merambah ke tempat lain tapi masih berupa paket-paket. Seperti di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Inginnya seluruh indonesia. Semuanya arung jeram. Selain perahu karet, di Kalimantan ada yang pakai ketinting. Seperti open kano yang panjang dan tradisional,” jelas Yuni.
…
Banyak Nggak Enaknya”
Setelah lama absen mendaki gunung, Yuni akhirnya
memutuskan melakukan ekspedisi.
“Tapi, sebenarnya naik gunung itu banyak tidak enaknya,” sesaat Yuni, tersenyum. “Yang enak cuma pemandangannya. Sisanya nggak enak semua. Ya capek, dingin, tidur tidak nyaman. Tetapi, disini ada suatu pembangunan mental. Dari situ pasti ada satu asalan tertentu yang kita dapat. Kita pasti diajak keluar dari comfort zone, dengan iklim yang ekstrim.”
Yuni menggambarkan saat ia mendaki Kilimanjaro kemarin. “Aku sampai ngerasa, ‘duh, nih gunung bukan untuk gue. Beratnya. Bukan waktunya lagi.’ Sepanjang jalan mikirnya begitu. Apalagi waktu ke summit. Udara tipis, dingin banget, capek. Muka sudah kebakar semua. Minuman di botol sudah jadi es. Pakai kaos kaki dua lapis pakai sepatu terbaik, tapi masih beku juga. Tapi dari situ, tanpa disengaja kita dibawa keluar dari zona kenyamanan kita. Kita merasa ada sesuatu yang kita dapat. Ketangguhan mental sepertinya diasah. Kita jadi mensyukuri pada hal sederhana yang kita punya. Disitu kita dibuat sengsara. Ternyata d rumah nikmat banget. Itu yang kita bayangin, begitu kita pulang, kita merasa lebih appreciate pada apa yang kita punya,” kata Yuni.
Kalau dulu saat masih usia 20 tahunan, diakui Yuni, jiwa ingin menaklukkan puncak gunung masih tinggi. Tapi setelah usia diatas 35 tahun, “yang penting kembali dengan selamat.” Yuni pun tertawa lepas.
“Sekarang, naik gunung, harus ada manfaatnya untuk orang lain. Ada anggapan, kok di Indonesia orang-orang berkegiatan adventure hanya waktu kuliah saja. setelah menikah, berhenti. Sedangkan kalau kita pergi ke luar, orang umur 60, masih saja jalan. Usia bukan faktor penghalang,” ujar Yuni.
Akhirnya timbul pemikiran-pemikiran lain. “Kenapa kita tidak sekalian punya satu misi yang bermanfaat untuk orang lain. Akhirnya kita gandeng-gandeng dengan Lupus.”
Tahun depan, tim ekpedisi wanita ini akan menaklukkan puncak Kayambe, salah satu puncak tertinggi di ekuador, selain 2 puncak lainnya, Kilimanjaro dan Cartenz Piramide.
“Orang pikir kita senang-senang, pergi terus. Siapa bilang?” alis Yuni terangkat. Di Kilimanjaro kemarin, GSM sampai di puncak. Jadi tiap hari ibu saya sms. ‘Ini jam 10 anak-anak belum pulang di bawa Lodi.’ Saya terus sms Lodi suruh bawa anak-anak pulang. Itu di ketinggian 4000 loh,” cerita Yuni sambil tertawa. “Belum lagi sms dari ibu, ‘Yun, besok mau ketemu kepala sekolah, apa yang harus diomongin ?’.”
Yuni memang sangat memperhatikan perkembangan tiga anaknya. Sejak kecil, ia dan Lody mengajak anak-anaknya mengenal alam.
“Saya baca, anak-anak yang lahir tahun 95, adalah generasi Z. Yang hidupnya sudah terlalu dikelilingi screen, mulai dari televisi, psp, gameboy, termasuk handphone. Ada plus minunya. Saya ingin mem-balance mereka. Karenanya, kalau weekend saya ajak ke citarik. Mereka bergaul dengan anak-anak kampung. Belajar juga supaya tahu bahwa kehidupannya tidak hanya teman-teman mereka di sekolah. Mainan-mainannya juga beda,” ujar Yuni.
“Mereka kita bawa ke alam, bukan karena ingin mereka seperti kita. Tapi mereka harus belajar juga hal-hal yang tidak nyaman. Bukankah anak-anak sekarang kemana-mana pakai AC. Di sana mereka harus mau tidur di tenda,” ungkap Yuni, senang.

Article and Photo by : Aien Hisyam
Recommended by : Alfonsa
KEEP STRONG AND GRACE
READ MORE - Amalia Yunita, Bukan Wanita Biasa [cantik dan Berprestasi]

Wanita dan Teknologi

photo by : 222talent


Keanggunan wanita sering di indentikkan dengan langkah yang melenggok dan gerak yang gemulai. Tatapan yang teduh dan bibir yang merekah. Kehidupan yang lamban dan cukup bekerja untuk menyelesaikan masalah rumah tangga. Wanita harus bisa sabar walaupun yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannya, tetapi selalu diam dan mencoba memahami keinginan orang lain terutama pria. Sejarah memberikan banyak bukti bahwa wanita selalu berada dibawah pria, menuntut wanita harus pengertian dan sabar dengan semua penindasan hak-hak yang dilakukan pria. Wanita bisa diasumsikan seperti mesin penghasil anak, mendidik anak dan harus tetap tunduk pada suami sekalipun dirinya tidak dihargai sebagai pribadi yang memiliki perasaan, kehendak dan juga hak yang sama dengan pria. Mungkin ini adalah era yang terjadi dengan nenek dan kakek kita ketika bangsa ini masih di zaman rekiplik. Wanita cukup belajar mempersiapkan diri menjadi istri yang baik tanpa pernah mengecap pendidikan dan pembelajaran.


Bagaimana dengan saat ini, apakah sosok wanita itu? Saya sering menanamkan dalam hati bahwa prinsip tidak boleh perubah walaupun perwujudannya mungkin berubah-ubah. Wanita akan tetap menjadi wanita sekalipun budaya yang terjadi sudah berubah. Wanita tetap bisa sabar dan pengertian sekalipun tidak memungkinkan lagi berjalan sambil melenggak. Sekalipun wanita dituntut mampu berpikir sedikit dibawah pria atau sebanding dengan pria itu bukan mengubah esensi dari wanita. Kehidupanlah yang menuntut itu, dan itu adalah perwujudan salah satu kelembutan yang merupakan kekuatan dari wanita. Wanita lembut tidak harus menggunakan gaun yang panjang, tetapi dengan celana panjang dan setelan kemeja juga dia akan tetap perempuan. Wanita itu dinyatakan dari dalam diri bukan sesuatu yang terlihat diluar.

Kita tidak bisa memungkiri kalau saat ini jarak bukan suatu masalah lagi dalam kehidupan. Perkembangan internet dan telekomunikasi membuat jarak menjadi nol dalam komunikasi. Semua bergerak cepat sebanding dengan cepatnya informasi yang bisa didapat dari mana saja dan kapan saja. Wanita juga sudah mampu terjun dalam perkembangan teknologi yang ada dan sudah mengisi semua bidang kehidupan. Wanita tidak jarang menjadi besar dalam industri dan juga dalam segala ragam bisnis yang ada. Bukan hanya teknologi informasi yang membuat jarak tidak ada dalam arti sempit. Kemajuan teknologi juga menyebabkan perbedaan pria dan wanita dalam era ini sudah tidak ada lagi. Apapun yang dilakukan pria mungkin mampu dilakukan wanita. Tetapi itu hanya perwujudan yang terlihat saja. Secara esensi mereka tetap dua insan yang berbeda.

Teknologi membuat wanita yang tadinya bisa melenggak menjadi wanita yang selalu terburu-buru. Pekerjaan dan target-target tidak memungkinkan wanita untuk bergaun panjang dan lamban di kantor. Wanita menjadi fotocopi pria dalam berbusana, bahkan tidak jarang wanita juga bisa pake jeans dan T-shirt saja ke kantor untuk bekerja, yang penting nyaman dan kinerjanya maksimal. Wanita yang mungkin selalu meminum jamu-jamuan supaya memiliki kulit yang halus berubah menjadi sosok yang harus meminum kopi pait supaya target-targetnya tercapai. Wanita yang juga indentik dengan memanjakan diri di salon-salon saja juga harus terkadang menjadi wanita yang mampu tidak tidur semalaman karena tuntutan hidup. Wanita yang lembut dan hanya merajut di halaman rumah juga mungkin sudah berubah menjadi wanita yang mulai mengelas mesin-mesin di industri. Dan banyak kehidupan tanpa batas yang sudah ditembus oleh wanita dalam era informasi ini.

Kemajuan teknologi membuat banyak perubahan yang terjadi pada wanita. Tetapi kita harus selalu sadar bahwa itu hanya perwujudan yang bisa dilihat yang tidak boleh mengubah prinsip menjadi wanita dan esensi kita sebagai wanita. Prinsip hidup wanita adalah tetap sebagai penolong dan hidup berdampingan dengan pria dengan segala perbedaannya. Bukan untuk menjadi lebih dari pria dan menyatakan kalau wanita juga tidak kalah dengan pria. Yang pasti pria dan wanita akan tetap berbeda sekalipun sering melakukan pekerjaan yang sama.

Berkaitan dengan sifat wanita yang menginginkan rasa aman dan kenyamanan hidup. Saya melihat teknologi yang seharusnya memudahkan hidup juga mengubah wanita menjadi sosok yang semakin sulit. Misalnya saja, sering sekali kalau seorang wanita mengirim sms ke temannya dan tidak dibalas maka kemungkinan timbul pemikiran yang negatif, apalgi kalau yang di sms teman pria. Wanita sangat gampang merasa tertolak dan memikirkan kalau dia tidak disayangi dan itu membuat dia tidak merasa nyaman dan ini bisa berakibat dia menyakiti orang lain. Teknologi yang seharusnya memudahkan komunikasi bisa berubah menjadi sarana saling menyakiti juga. Beberapa waktu yang lalu kalau kita main ke rumah seorang teman dan setelah nyampe di rumahnya dia ternyata tidak di rumah. Maka kita bisa memaklumi dan sering kita menitip pesan pada orang rumahnya atau meninggalkan catatan di kertas kecil di dalam kamarnya. Itu tidak menggangu emosi dan perasaan kita. 

Tetapi sangat berbeda dengan saat ini, banyak pria bingung dengan wanita. Wanita membutuhkan komunikasi lebih dari pria, dan ketika seorang pria tidak membalas sms temannya yang wanita, maka si wanita akan berpikir jauh dan sering sekali akhirnya merasa kesal dan marah. Kemarahan ini bisa berakibat menyakiti yang lain. Pria sering sekali kalau tidak ada yang penting tidak mengirim sms, bahkan seorang teman pria yang tidak membalas sms teman wanita yang lain ketika ditanya kenapa tidak membalas, dia menjawab..bingung balasnya, gak ada pertanyaannya di sms itu. Hmmm…!!!

Ternyata wanita dan pria tidak akan pernah sama, jangan pernah berpikir menyamai pria karena sejak awal memang berbeda. Keinginan untuk sama itu hanya akan menyakiti diri sendiri dan juga orang lain.



Artikel by : Naomi Sihombing


Keep strong & grace
READ MORE - Wanita dan Teknologi